11 Agustus 2018

Peningkatan Produksi Komoditas Kedelai Aceh Melalui Start-Up Bidang Pertanian Untuk Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan 2045

Peningkatan Produksi Komoditas Kedelai Aceh Melalui Start-Up Bidang Pertanian Untuk Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan 2045


Oleh: Wahyu Aulia, S.TP

  A.    PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara beriklim tropis berhasil menorehkan prestasi yang mendunia dengan melakukan gebrakan swasembada pangan beras pada tahun 2016. Keberhasilan tersebut mampu memecahkan kebuntuan setelah 32 tahun Indonesia tidak mencapai target tersebut. Organisasi pangan dunia, Food Agriculture Organization (FAO) dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengapresiasi langkah Indonesia dalam berpartisipasi memenuhi kebutuhan pangan dunia terkhusus di ASEAN melalui kebijakan perbaikan dan pembangunan infrastruktur pertanian di Indonesia (Acehkita, 2017).
Pencapaian besar yang dilakukan pemerintah tersebut menjadikan sebuah momen untuk berupaya meningkatkan kapasitas sebagai negara agraris dengan menargetkan Indonesia lumbung pangan dunia 2045. Untuk mewujudkan cita-cita menjadikan Indonesia tersebut, Kementerian Pertanian memfokuskan peningkatan kapasitas hasil pertanian serta mendorong produksi dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana serta teknologi informasi. Selain pengadaan alsintan, irigasi, dan teknologi terapan lapangan dibutuhkan juga teknologi informasi (internet) untuk mempermudah perolehan informasi.
Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat banyak memberikan dampak perubahan dalam kehidupan manusia. Salah satunya perkembangan StartUp yang meningkat secara masif di Indonesia, hingga menjadi tren dalam berwirausaha melalui digital. Istilah kata StartUp masih terasa asing jika didengar oleh orang banyak. Menurut sumber informasi Wikipedia, StartUp adalah sebuah perusahaan rintisan, umumnya disebut start up (atau ejaan lain yaitu start-up), merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Kemunculan StartUp sendiri mulai popular secara internasional pada masa buble dot-com. Fenomena buble dot-com terjadi pada periode 1998-2000 dengan  banyak munculnya perusahaan dot-com yang didirikan secara bersamaan. Pada masa itu sedang gencar-gencarnya perusahaan membuka website pribadinya sehingga semakin banyak orang yang mengenal internet sebagai ladang baru untuk memulai bisnis dan secara bersamaan StartUp lahir dan berkembang (Maxmonroe, 2014).
StartUp biasanya terdiri dari satu hingga delapan orang, yang sebagian besar merupakan developer yang bersatu untuk menciptakan codebase atau aplikasi yang manfaatnya mereka tawarkan kepada dunia. Codebase atau aplikasi tersebut dapat diakses melalui web, dijalankan pada PC Windows, Linux ataupun Mac, dan juga dapat dijalankan di smartphone seperti BlackBerry, Android, iPhone, Nokia, dan lain-lain (Alamsyah, 2011). Sejak tahun 2016, StartUp Indonesia diramaikan oleh sektor e-Commerce dan FinTech (Financial Technology). Pada tahun ini, tren startup Indonesia mulai merambah bidang lain yaitu agrikultur, seiring berjalan waktu banyak StartUp  karya anak bangsa yang muncul dengan konsep Agriculture Tech dengan menitikberatkan pada permasalahan aktivitas Supply Chain di pertanian lokal ( Tekno Liputan6, 2017). Tren positif tersebut memberikan akses kepada investor untuk menginvestasikan dana kepada petani melalui perantara StartUp yang dipercaya dan dapat dipantau dari penanaman tanaman hingga penjualan dipasar sehingga investor tidak perlu khawatir atas dana yang telah diinvestasikan. Banyak StartUp yang menawarkan sistem bagi hasil sehingga menjadi daya tarik bagi investor untuk berpartisipasi dalam pembangunan pertanian lokal.
Pertanian menjadi sektor strategis pembangunan di Aceh karena potensi sumberdaya pertanian yang melimpah di wilayah ini. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan dan dikembangkan untuk ketahanan pangan masyarakat Aceh. Produk unggulan Aceh yang banyak ditanam oleh petani adalah padi, jagung, dan kedelai.  Berdasarkan data Bappeda Aceh (2015), untuk komoditas kedelai, kontribusi Provinsi Aceh terhadap nasional tahun 2014 sebesar 6,63 persen pada tahun 2014, dan menurun menjadi 5,19 persen pada tahun 2015. Pada tahun 2015 produksi kedelai mencapai 51.024 ton menurun sebesar 12.328 ton dibandingkan tahun 2014 sebesar 63.352 ton Permasalahan tersebut menunjukkan untuk menjaga kestabilan produksi dari tanaman kedelai tersebut diperlukan pemodalan kepada petani sehingga mampu mempertahankan serta meningkatkan produksi. Selain pemerintah, pemberian modal kepada petani dapat dilakukan pihak swasta ataupun individu sehingga masyarakat bisa ikut andil dalam mensejahterakan petani melalui perantara StartUp bidang pertanian yang saat ini telah banyak berkembang.

B.    PEMBAHASAN
Tantangan pemerintah Indonesia yang dikontrol oleh Kementrian Pertanian begitu besar untuk mewujudkan target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. Potensi yang dimiliki Indonesia sebagai negara agraris bukanlah hal yang tidak mungkin jika pencapaian target berhasil dilaksanakan. Alasan tahun 2045 sebagai lumbung pangan dunia untuk memberikan hadiah spesial kepada rakyat Indonesia atas kemerdekaan 100 tahun. 
Peningkatan produksi yang dilakukan pemerintah adalah komoditi pangan yaitu beras, jagung, gula, kedelai, daging sapi, bawang dan lainnya. Untuk tahun 2016, produksi padi mencapai 79.1 juta ton, naik 4.97% dibandingkan produksi tahun 2015 sebesar 75.4 juta ton. Sedangkan produksi jagung di tahun 2016 berada pada posisi 18.10% naik yang sebelumnya dari 19.6 juta ton menjadi 23.2 juta ton tentu peningkatan tersebut sangat signifikan. Sementara itu, pada komoditas kedelai mengalami penurunan produksi yang diakibatkan harga yang tidak kompetitif yang terkesan merugikan petani sehingga minat petani untuk menanam kedelai menurun serta permasalahan cuaca menjadi hambatan utama yang dialami oleh petani (Bisnis Liputan 6, 2017). Selain itu, pemerintah juga menyiapkan roadmap atau jalur pemetaan untuk pengembangan strategi komoditas pertanian.
Perencanaan kenaikan produksi pangan dibuat sesuai dengan target komoditas yang dicapai setiap tahunnya. Mulai dari padi, bawang, merah dan cabai pada 2016. Kemudian jagung di 2017, gula konsumsi di 2019, kedelai di 2020, gula industri di 2025, daging sapi di 2026, bawang putih di 2033. Produksi bawang naik 5,74 persen dari 1,2 juta ton di 2015 menjadi 1,3 juta ton di 2016. Produksi jagung naik 18,10 persen dari 19,6 juta ton menjadi 23,2 juta ton. Sedangkan produksi cabai naik 9,95 persen dari 1,9 juta ton di 2015 menjadi 2,1 juta ton di 2016 (Bisnis Liputan6, 2017).

1.    Pemanfaatan Teknologi Informasi Pertanian
Perencanaan strategi Kementrian Pertanian untuk mencapai target tersebut dengan berupaya memanfaatkan teknologi dan informasi. Upaya yang dilakukan berupa meluncurkan sistem informasi pertanian berbasis aplikasi smartphone bernama Teknologi Pertanian Modern (TANAM). Aplikasi TANAM dapat mengetahui peningkatan dan kemampuan dalam mencapai kedaulatan pangan. Aplikasi tersebut juga menyediakan informasi dari pangkal hingga ujung permasalahan pertanian yang meliputi sentra produksi, kesesuaian lahan, kesesuaian varietas dan sarana produksi pertanian berupa informasi penyedia benih, pupuk dan alat mesin pertanian. Selain itu aplikasi tersebut juga menyediakan media konsultasi online antara petani, penyuluh, peneliti dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan aplikasi ini, petani juga akan mengetahui keahlian penyuluh, peneliti, dosen dan staf dinas yang online (Industri Bisnis, 2016). Alhasil, jika salah satu komoditas pangan mengalami peningkatan produksi maka kesejahteraan petani dapat terpenuhi dan komoditas tersebut akan terus diekspor tanpa harus berlama-lama menunggu untuk dijual.

Gambar 1. Aplikasi TANAM
Langkah strategis yang dilakukan pemerintah merupakan suatu momen gebrakan yang bagus untuk bisa dinikmati oleh banyak petani. Pemanfaatan teknologi informasi yang diadopsi dapat terpantau secara terus-menerus, sehingga adanya mafia pangan dan oknum dari penyelewengan stok pangan dapat dihilangkan. Penyediaan teknologi dan informasi yang diberikan pemerintah masih memiliki keterbatasan dalam menyediakan modal bagi para petani, peran pemerintah melalui aplikasi TANAM hanya sebatas pemberian informasi dan konsultasi terkait permasalahan pertanian yang dialami oleh petani. Selain itu, dalam memberikan layanan pemodalan, investasi atau kredit, aplikasi TANAM belum memiliki layanan yang mumpuni dari pemerintah kepada petani tetapi pemerintah menyediakan layanan secara manual dengan berbagai program, seperti koperasi simpan pinjam, dana desa dan juga KUR untuk petani. Sisi kekurangan aplikasi tersebut banyak dimanfaatkan bagi pegiat teknologi dan informasi untuk bisa memiliki andil dalam pembangunan pertanian terkhusus menargetkan Indonesia lumbung pangan dunia 2045. Membangun perusahaan digital berbasis StartUp banyak bermunculan pada sektor pertanian.
Permasalahan petani yang sering dihadapi antara lain;  keterbatasan lahan produksi atau lahan pertanian yang relatif kecil, tidak memilikinya izin atau sertifikat untuk memperoleh pemodalan dan petani masih bergantung dengan peminjaman uang melalui rentenir sehingga terlilit hutang. (Go UKM, 2017). Oleh karena itu akses permodalan untuk petani perlu dikembangan. Dengan kondisi tersebut,  lahirnya StartUp bidang pertanian banyak bermunculan yang diprakarsai oleh perhatian dan minat generasi muda terhadap perkembangan industri pertanian ke depan. Melalui startup digital, anak-anak muda ini membangun hubungan dengan para petani, pelaku usaha, serta akademisi, dalam melakukan sinergi demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi, serta melakukan pendampingan bagi yang membutuhkan di dunia pertanian (Hitsss, 2017).

Gambar 2. Perusahaan Start-Up Bidang Pertanian
Salah satu StarUp pertanian terbesar yang ada di Indonesia adalah iGrow. Startup pertanian yang dibentuk oleh Andreas Senjaya ini, bertujuan mempertemukan pemilik lahan, petani, investor, sekaligus konsumen. StartUp  yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan mengembangkan sektor pertanian di Indonesia. Hampir seluruh lahan-lahan pertanian di Indonesia yang telah bergabung bersama iGrow. Selain itu, tanaman yang diberdayakan iGrow tidak hanya terfokus kepada bahan pangan pokok seperti padi, melainkan berbagai tanaman yang dibutuhkan masyarakata saat ini. iGrow sendiri sudah mempunyai database untuk tanaman, harga dan permintaan. Sehingga, ketersediaan bibit tanaman, stok tanaman, dan penjualan pun bisa dipantau oleh investor dan petani langsung (Hitsss, 2017).  Sementara itu, dalam hal keuntungan yang akan diperoleh bagi Investor, iGrow memberlakukan sistem bagi hasil, 40 % untuk pemilik lahan KKP, 40 % pengelola atas pekerjaannya sejak menanam sampai pohon panen dan pengelolaan pohon ketika berbuah dan 20% untuk pekerjaan supervisi dan administrasi – yang terdiri dari supervisor independent dan administrator iGrow. Sampai saat ini, untuk di pasar Indonesia, iGrow telah berhasil memberdayakan lebih dari 2200 petani di 1197 hektar lebih lahan dan memperoleh lebih dari 500 ton panen kacang tanah yang berkualitas. Hasil panen tersebut pun didistribusikan ke industri-industri besar seperti GarudaFood, Carrefour dan sebagainya (Go UKM, 2017).
Saat ini, platform iGrow masih melakukan pergerakan investasi pada komoditas cengkeh, untuk memenuhi kebutuhan dan ketersediaan dalam negeri. Perkembangan StartUp yang begitu pesat dapat dijadikan sebagai solusi bagi pemerintah untuk bekerjasama dan memberdayakan masyarakat petani yang sejahtera. Memberikan kesempatan kepada masyarakat lainnya untuk ikut andil memproduksi dan mengkonsumsi produk-produk pangan dalam negeri.

2.    Penerapan Teknologi Informasi Pertanian
Provinsi Aceh memiliki komoditas unggulan yang masih dipertahankan  hingga dari tahun ke tahun terjadi peningkatan dari komoditas padi, jagung, dan kedelai merupakan komoditas unggulan utama. Berdasarkan data dari Bappeda Aceh yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penurun produksi yang signifikan adalah komoditas kedelai yang cenderung rendah dalam pencapaian produksi. Menurunnya produksi kedelai dipengaruhi oleh berkurangnya luas panen kedelai sebesar 6.825 hektar pada tahun 2015, namun produktivitas tetap meningkat. Sentra produksi kedelai terdapat di Kabupaten Bireuen dan Aceh Timur.
Provinsi Aceh berpotensi  dan memiliki peluang untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Hal itu bisa dilakukan dengan perluasan areal tanam dan upaya peningkatan produksi lainnya. Sehingga, Aceh menjadi lumbung kedelai nasional. Peluang peningkatan produksi kedelai di dalam negeri masihterbuka lebar. Apalagi saat ini produktivitas nasional kedelai baru mencapai 1,3 ton/hektare dengan kisaran 0,6-2,0 ton/ha ditingkat petani, sedangkan di tingkat penelitian sudah mencapai 1,7-3,2 ton/ha. Seperti diketahui bersama, kebutuhan kedelai di Indonesia sebanyak 2 juta ton, sedangkan produksi di dalam negeri hanya 800-900 ribu ton dan kekurangannya masih impor. (Aceh Tribunnews, 2013).
Perkembangan teknologi informasi yang semakin hari semakin berkembang merupakan kesempatan bagi masyarakat Aceh untuk bisa berpartisipasi mewujudkan Indonesia lumbung pangan dunia 2045. Deklarasi program dari Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf yang berkaitan dengan teknologi informasi adalah Aceh SIAT (Sistem Informasi Aceh Terpadu), tentu program andalan tersebut dapat dijalankan dengan baik untuk bidang pertanian selain bidang pembangunan. Salah satunya dengan melakukan kerja sama dengan StartUp yang ada di Indonesia dengan keterbukaan masyarakat Aceh kepada investor ke pertanian untuk menargetkan peningkatan komoditas pangan kedelai.

C.    PENUTUP
Keberhasilan Indonesia dalam melakukan swasembada beras di tahun 2016 merupakan bentuk kepercayaan diri bagi pemerintah Indonesia untuk bisa melakukan hal yang lebih dengan mencanangkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. Perencanaan sedini mungkin telah dilakukan dengan membuat roadmap produksi tiap-tiap komoditas yang ditargetkan untuk setiap tahunnya. Permasalahan yang banyak terjadi dikalangan petani terkendala akan  ketersedian akses mendapatkan modal dan jika gagal panen maka petani akan terlilit hutang untuk mengembalikan peminjaman modal. Kepedulian generasi muda atas kepedulian perkembangan industri pertanian ke depan. Munculnya StartUp merupakan salah satu upaya untuk membantu petani dalam menyelesaikan permasalahan pertanian dan pemerintah dapat mencapai cita-cita mulia Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. Kerja sama program Aceh SIAT dengan StartUp diharapkan mampu memberikan peningkatan produksi komoditas kedelai Aceh

DAFTAR PUSTAKA
Acehkita. 2017. Berita : Penas KTNA, Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045. http://www.acehkita.com/penas-ktna-menuju-indonesia-lumbung-pangan-dunia-2045/. Diakses tanggal : 11 Oktober 2017

Aceh Tribunnews. 2013. Berita : Aceh Bisa Jadi Lumbung Kedelai Nasional. http://aceh.tribunnews.com/2013/03/25/aceh-bisa-jadi-lumbung-kedelai-nasional. Diakses tanggal : 18 Oktober 2017


Alamsyah, P.  2011. Reportase Start Up Indonesia 2010. LIPI Press, Jakarta.

Bappeda Aceh. 2015. Seri Analisis Pembangunan Wilayah Provinsi Aceh. Percetakan Bappeda Aceh, Provinsi Aceh

Bisnis Liputan 6. 2017. Berita: RI Bermimpi Jadi Lumbung Pangan Dunia di 2045. http://bisnis.liputan6.com/read/2833912/ri-bermimpi-jadi-lumbung-pangan-dunia-di-2045. Diakses tanggal : 18 Oktober 2017.

Go UKM. 2017. Artikel: 5 Startup Pertanian Yang Mempermudah Akses Modal dari Investor ke Petani. http://goukm.id/5-startup-hubungkan-petani-dengan-investor/. Diakses tanggal : 18 Oktober 2017

Hitsss. 2017. Artikel: iGrow, Ci-Agriculture, Crowde, TaniHub, LimaKilo, 5 Startup Inovatif Pendukung Pertanian Indonesia. https://www.hitsss.com/igrow-ci-agriculture-crowde-tanihub-limakilo-5-startup-inovatif-pendukung-pertanian-indonesia/. Diakses tanggal : 18 Oktober 2017

Industri.bisnis.com. 2016. Berita: Informasi Pertanian: Kementan Kembangkan Aplikasi Berbasis Smartphone. http://industri.bisnis.com/read/20161222/99/614461/informasi-pertanian-kementan-kembangkan-aplikasi-berbasis-smartphone. Diakses tanggal : 18 Oktober 2017

 

Maxmonroe. 2014. Artikel : Apa Itu Startup dan Bagaimana Perkembangannya di Indonesia?. https://www.maxmanroe.com/apa-itu-startup.html. Diakses tanggal : 11 Oktober 2017

 

Tekno Liputan 6. 2017. Berita: Bidang Pertanian Bakal Dominasi Tren Startup Indonesia 2017. http://tekno.liputan6.com/read/2979316/bidang-pertanian-bakal-dominasi-tren-startup-indonesia-2017. Diakses tanggal : 16 Oktober 2017. 



PERHATIAN KEPADA PARA PEMBACA BAHWA TULISAN INI HANYA BISA DIJADIKAN REFERENSI DAN RUJUKAN DAN JANGAN DIJADIKAN UNTUK PLAGIASI DALAM TULISAN ANDA. 
BERKARYALAH DENGAN BIJAK!!!!!

Tulisan ini merupakan hasil dari karya pada:
Kompetisi Karya Tulis Essay Juara 1 Biro Komunitas Pecinta Sains (KOMPAS) LDK Al-Ihsan FP USK Tahun 2017


Tema: Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045
Sub Tema: Optimalisasi Teknologi dan Informasi Guna Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045


PROMOSI PARIWISATA ACEH SINGKIL MELALUI INSTAGRAM DALAM BINGKAI EKONOMI KREATIF

AGAM (ACEH - INSTAGRAM) : PROMOSI PARIWISATA ACEH SINGKIL MELALUI INSTAGRAM DALAM BINGKAI EKONOMI KREATIF

Oleh: Wahyu Aulia, S.TP 

A.  PENDAHULUAN
Perkembangan ekonomi kreatif bermula muncul pertama kali di inggris. John Howkins (2001) menulis buku Creative Economy, How People Make Money from Ideas. John Howkins adalah seorang yang berkebangsaan Inggris yang memiliki multiprofesi. Di samping sebagai pembuat film, ia juga aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintahan Inggris. John Howkins mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai ekonomi yang menjadikan kreativitas, budaya, warisan budaya, dan lingkungan sebagai tumpuan masa depan (Kompasiana, 2011). Dalam beberapa tahun terakhir kita mendengar istilah baru yang disebut ekonomi kreatif yang semakin digencar oleh pemerintah guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional hinga kebijakan ekonomi kreatif perlahan berinovasi menjadi industri kreatif. Pada 2008 industri kreatif diyakini sebagai solusi mengatasi pengangguran di tengah ancaman PHK akibat krisis global. Puncaknya pemerintah Indonesia mencanangkan tahun industri kreatif 2009-2015.
Pemerintah Indonesia, melalui Perpres No.8 Tahun 2008, menetapkan 14 sub sektor industri kreatif, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, video/film/animasi/fotografi, game, musik, seni pertunjukan, penerbitan/percetakan, software, televisi/ radio, dan riset & pengembangan (Serambi, 2014). Keseriusan pemerintah untuk mengangkat industri kreatif dibuktikan dengan membentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif. Badan ekonomi kreatif diharapkan dapat memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi diharapkan menjadi kekuatan baru ekonomi Indonesia.
Aceh  memiliki potensi wisata alam yang merupakan sebuah anugerah dan menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat terlebih di daerah kabupaten Aceh Singkil yang memiliki pesona wisata bahari yang sangat cocok untuk berlibur dan mengeksplorasi dunia air yang masih asri. Saat ini, perkembangan wisata aceh masih dalam proses pengembangan sebab konflik dan musibah membuat trauma jangka pendek muncul sehingga kegiatan promosi dan kedatangan wisatawan menurun baik dari wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Pemerintah Aceh selalu berupaya untuk menjadikan sektor wisata menjadi senjata andalan untuk meningkatkan ekonomi kreatif provinsi Aceh, tentunya berkembangnya pariwisata disuatu daerah dapat dirasakan berbagai manfaat antara lain manfaat dibidang ekonomi dan yang mensejahterakan rakyat.

B.  ISI
       Konsep ekonomi kreatif dan industri kreatif merupakan satu-kesatuan konsep yang saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Pemanfaatan kemampuan ide/gagasan berdasarkan kreativitas sumber daya manusia yang dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai suatu aktivitas positif dan menghasilkan suatu karya atau produk yang bernilai. Era globalisasi membuat berbagai hal mudah untuk dijangkau dengan memanfaatkan teknologi, sehingga hal yang dirasa jauh akan terasa dekat. Pemanfaatan teknologi diadopsi untuk memudahkan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas terutama dalam konsep komunikasi dan informasi dalam bentuk smartphone yang sudah menjadi sebuah tren dikalangan masyarakat.
Berbagai model aplikasi dalam sebuah smartphone terutama yang berfungsi sebagai jejaring sosial atau media sosial membuat setiap orang terhubung, berinterkasi, bersosialisasi dan bergabung dalam sebuah komunitas. Hal-hal tersebut merupakan pengganti terhadap komunitas online. Aplikasi sosial media tersebut menjangkau beragam kebutuhan yang luas termasuk hubungan sosial biasa dan hubungan profesional, produk atau servis , hobi, berita, hiburan dan kencan. Beragam jenis aplikasi media sosial atau rekaman penyimpanan memfasilitas jutaan pengguna yang ingin melakukan publikasi dokumen tentang kehidupan mereka pada sebuah format multimedia. (Irbah et al., 2010: 2).

1.    Strategi Promosi

      Sosial media (Sosmed) kerap dijadikan suatu alat untuk melakukan strategi komunikasi khususnya untuk melakukan promosi. Contohnya strategi komunikasi pemasaran di media sosial yaitu twitter, instagram, youtube, facebook. Setiap  sosial media memiliki kegunaan dan karakteristiknya masing-masing. Instagram memiliki keunggulan membagi foto dan video secara aktif dengan menggunakan hashtag dan menjadi suatu branding dalam sebuah promosi suatu produk, wisata, dan event-event. Penggunaan sosial media sebagai media promosi salah satunya dimanfaatkan oleh pegiat travel untuk menunjukkan eksistensi terhadap situs wisata yang belum banyak diketahui. Saat ini, akun-akun instagram yang menjadi media promosi wisata menjadi sasaran para pengguna instagram untuk mencari referensi liburan disaat weekend tiba.

Provinsi Aceh terletak diujung pulau Sumatera dan dikelilingi lautan memiliki banyak kawasan wisata bahari. Salah satu wisata yang mempunyai daya tarik sendiri adalah Pulau Banyak Aceh Singkil. Pulau Banyak merupakan tempat tujuan wisata bahari yang ideal, memiliki laut yang cukup luas dan pantai yang panjang dan indah dengan pasir putihnya. Pulau Banyak juga terkenal dengan taman bawah laut, berbagai macam ikan hias dan terumbu karang dijumpai disini. (Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, 2012). Potensi pariwisata Aceh Singkil kurang mampu diserap dengan baik oleh pemerintah, sehingga Pendapat Asli Daerah (PAD) yang saat ini berkisar di angka Rp 30 miliar hanya mampu diserap berkisar Rp 350 Juta per tahun. Padahal, jika dikelola dengan baik potensi pariwisata dapat menjadi keuntungan bagi masyarakat dengan memperkerjakan banyak orang dan membuka usaha-usaha jajanan khas daerah serta pernak-pernik Aceh Singkil (AJJNNNet, 2016).
Berdasarkan data potensi PAD yang sangat besar, tentu perlu dilakukan tindakan-tindakan yang terencana melalui kegiatan promosi pariwisata. Pemanfaatan sosmed merupakan salah satu strategi jitu untuk melakukan promosi pariwisata, promosi yang bersifat praktis (mudah dijangkau pengguna sosmed) dan ekonomis karena tidak memerlukan banyak biaya dalam kegiatan promosinya. Hal yang terpenting dari strategi jitu ini adalah perlunya inovasi dan kreativitas untuk melakukan pengambilan foto dan video di setiap sudut pantai ataupun pulau yang dijadikan target promosi melalui keahlian pengolahan (editing) gambar/video agar menjadi dramatis layaknya sebuah iklan. Namun, beberapa kendala yang dihadapi strategi jitu memerlukan perlatan yang memadai guna memperoleh kualitas foto dan video yang bagus seperti drone, kamera, laptop/komputer, dan perangkat lunak penyunting foto dan video. Banyak potensi lokasi wisata di Aceh Singkil yang belum terekspos, maka perlu dilakukan peremajaan sarana dan prasarana yang diiringi dengan promosi besar-besaran melalui publikasi sosial media instagram.
Peranan pemerintah diharapkan mampu mendukung strategi jitu tersebut menjadi ledakan PAD sektor pariwisata bahari dengan inovasi dan kreativitas melalui instagram. Seiring berkembangnya hobi fotografi dan video maker, muncul berbagai komunitas-komunitas yang terbentuk melalui kesamaan hobi tersebut. Komunitas beranggota dari kalangan para pemuda menjadikan strategi jitu yang direncanakan  dapat berjalan mulus, dikarenakan inovasi dan kreativitas dari kaum pemuda bervariasi dengan menginginkan kepuasan hasil suatu karya dan mempublikasikan karya melalui sosial media merupakan target yang sejalan. Pemerintah dapat berkolaborasi dengan komunitas-komunitas tersebut, memberikan dukungan materil agar terwujudnya peningkatan perkonomian melalui Pendapatan Asli Daerah. Dampak positif yang timbul memberikan peluang bagi masyarakat sekitar mendapatkan lapangan kerja dan membuka usaha.

2.    Pencapaian Target.
Promosi wisata yang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan unit usaha bagi masyarakat dalam sektor pariwisata merupakan hal yang vital guna memberikan fasilitas dan kenyamanan dalam berwisata. Setiap wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah atau tujuan wisata memerlukan berbagai kebutuhan selama menikmati liburan bersama keluarga. Berbagai kebutuhan para wisatawan dalam kenyamanan berwisata antara lain transportasi, akomodasi, kuliner, pemandu wisata dan oleh-oleh khas Aceh Singkil. 
Berkembangnya pariwisata juga berpotensi menarik perhatian investor untuk turut andil menjadi bagian pembangunan ekonomi masyarakat sekitar dengan membangun wisma penginapan, kuliner seafood, dan juga  . Selain itu, pencapaian target dalam konteks ekonomi kreatif dimaksudkan dengan memaksimalkan Perpres no. 8 Tahun 2008 menjadi industri kreatif agar kemandirian ekonomi masyarakat Aceh Singkil meningkat terutama sektor pariwisata. Tidak dapat dipungkiri dampak strategi jitu memalui sosial media instagram yang diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi memajukan daerah melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD).

C.  PENUTUP
Instagram merupkan aplikasi praktis yang memiliki fitur menarik untuk mempublikasikan foto/video yang sangat cocok untuk digunakan untuk promosi wisata. Sebagai media promosi, perlu dilakukan strategi untuk mencapai target yang diinginkan dengan bekerja sama antara pemerintah dan komunitas instagram perlu ditingkatakan. Promosi pariwisata Aceh singkil melalui instagram adalah ide cemerlang untuk memaksimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Singkil yang masih dibawah rata-rata. . Penerapan strategi promosi ini diharapkan dapat dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan ekonomi daerah, mengurangi kemiskinan dan pengangguran, serta merangsang  inovasi, kreativitas dan berpengaruh pada kaum muda di Indonesia, khususnya Aceh Singkil.


Daftar Pustaka

Serambi. 2014. Opini 2014 : Mendorong Industri Kreatif. http://aceh.tribunnews.com/2014/02/17/mendorong-industri-kreatif. Diakses tanggal 29 Maret 2017

Irbah, H., Y.R. Putri dan D.S. Fithrah. 2010. Strategi Komunikasi Penggunaan Media Sosial Sebagai Media Promosi Band Indie Mustache And Beard. Jurnal Eproc : 2.

Dinas Pariwisata dan Olahraga Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Singkil. 2012. Aceh Singkil Dalam Angka : 271 .

AJNNNet. 2016. Portal Berita : Pemkab Aceh Singkil Dilupa Tuding Potensi Daerah. https://www.ajnn.net/news/pemkab-aceh-singkil-dituding-lupa-potensi-daerah/index.html. Diakses tanggal : 31 Maret 2017 



PERHATIAN KEPADA PARA PEMBACA BAHWA TULISAN INI HANYA BISA DIJADIKAN REFERENSI DAN RUJUKAN DAN JANGAN DIJADIKAN BAHAN PLAGIAT DALAM TULISAN ANDA. BERKARYALAH DENGAN BIJAK!!!!!

Tulisan ini merupakan hasil dari:
Karya Tulis Essay Juara 1 Kompetisi HUT 9 GenSikureung Agroteknologi USK 
Tahun 2017

TEMA UMUM: EKONOMI KREATIF DAN EKONOMI MANDIRI
TEMA KHUSUS: PEMBANGUNAN EKONOMI KREATIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENJAWAB PEMBANGUNAN ACEH


12 Mei 2016

Optimalisasi Pengunaan Combine Harvester Untuk Pemanenan Padi

OPTIMIZATION OF USE COMBINE HARVESTER TO HARVESTING OF RICE

Wahyu Aulia 1305106010057  Faculty of Agriculture, Departement of Agricultural Engineering  University of Syiah Kuala, Banda Aceh

SUMMARY

Rice is one of the most important food crops as a source of staple food for most people of Indonesia. Handling harvest from the farm is an important starting point to ensure increased income and welfare. There are several levels of rice harvest handling is done cutting, threshing and packaging (bagging). A high percentage of loss that occurs mainly on the stage of harvesting and threshing rice, is expected to lose at that stage of greater than 9%.
Conditions rice harvest time can be seen in two ways determination, namely: (a) Visually, the optimal harvesting of rice is achieved when 90 to 95% grains in rice panicle already yellow or golden yellow. (b)While theoretically, be age appropriate rice harvest is 30 to 35 days after flowering evenly or between135 to 145 days after planting. And moisture content of grain moisture content reaches 22-23% in the dry season, and between 24-26% in the rainy season.
Harvesting equipment used by farmers today still with traditional tools such as the ani-ani and develop into a sickle. The growing use of sickle it can eliminate yield loss reaches 3-8%. Cutting is the modern way using a machine reaper. From the reaper machine usage, provide a significant impact to squeeze the rice harvest losses of less than 1%.
Handling process after cutting is threshing. Traditionally rice threshed by gebot with scattered losses are so great around 8-9% or use the pedal thresher which is semi-mechanical with the result of shrinkage or loss of this instrument is similar to how gebot ranges from 5-7%. while mechanically by the engine power thresher employ diesel engines as the driving force, stressing the results of shrinkage grain rice ranges from 1-2% also saves time and practical use that does not require a lot of manpower and operator.
Combine harvester machine rice harvest is capable of completing the job reap, threshing, separating, cleaning and sieving grain in one order. Combine harvester, is able to reduce the number of shrinkage yields by 1 to 2 percent compared with the harvest without the combine (conventional) shrinkage produced by 15-20%. Results harvesting of Combine harvester cut the rice stalks from the base of the stem is then separated between trunks with grain and exit in the form of grain.
           Fewer farm workers are needed in the operation of the combine harvester, only need one operator and farm workers carrier harvest as much as 3-4 people. It can threaten the other farm workers, especially women farm workers contributed most.

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Padi adalah salah satu tanaman pangan yang sangat penting karena sebagai sumber makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Penanganan panen yang dimulai dari tingkat petani merupakan titik awal penting untuk menjamin peningkatan pendapatan dan kesejahteraan mereka. Kegagalan penanganan panen padi pada tingkat petani ini dapat mengakibatkan rendahnya mutu hasil dan tingginya tingkat susut atau kehilangan hasil dan kerusakan gabah. Ada beberapa tingkat penanganan panen padi yang dilakukan yaitu pemotongan, perontokan, dan pengemasan (pengarungan).
Panen padi di Indonesia masih didominasi oleh tenaga manusia dengan menggunakan curahan tenaga kerja yang tinggi, kurang lebih 40% dari penggunaan total tenaga kerja orang untuk padi sawah intensif (1200-1500 JO/ha). Disamping masalah tenaga kerja, masalah budaya juga menyebabkan tingginya susut panen padi disawah, dimana angka susut pasca panen adalah sekitar 20%. (Handaka, 2007)
Selama kurun waktu 15 tahun kemudian, tingkat kehilangan hasil masih belum banyak berubah. Pada tingkat produksi padi mencapai 50 juta ton gabah kering giling (GKG), dapat diperkirakan bahwa jumlah kehilangan gabah menjadi kurang lebih 10 juta ton tiap tahun. Proses kehilangan ini terjadi pada setiap tahapan produksi padi, mulai dari panen, perontokan, pengeringan, pengangkutan, penggilingan dan penyimpanan. Persentase kehilangan yang tinggi terutama terjadi pada tahapan pemanenan dan perontokan padi, diperkirakan kehilangan di tahapan tersebut lebih besar dari 9% (BPS, 1996).
Peralatan panen yang dipergunakan oleh petani saat ini masih dengan alat-alat yang tradisional seperti ani-ani dan berkembang menjadi sabit. Seiring dengan perkembangannya varietas padi baru, pengunaan sabit berevolusi menjadi sabit yang bergerigi terbuat dari bahan baja yang tajam. Dan berkembang lagi secara modern menggunakan mesin reaper (Nugraha dkk, 1990).
Lebih lanjut, proses penanganan setelah pemotongan adalah perontokan. Dalam tahapan ini, diperlukan tindakan yang serius karena pada tahapan perontokan susut tercecer dan kehilangan banyak terjadi. Secara tradisional padi dirontokkan dengan digebot atau menggunakan pedal thresher yang secara semi-mekanis. Dengan perkembangan teknologi maka diciptakan mesin power thresher yang dikembangkan berdasarkan konsep pedal thresher yang masih memerlukan tenaga manusia sebagai tenaga penggerak sedangkan mesin power thresher menggunakan tenaga mesin diesel sebagai tenaga penggerak.
Kementrian Pertanian mencanangkan pentingnya mekanisasi pertanian. Dengan menargetkan peningkatan produktivitas dan efisensi kerja, kualitas dan daya saing produk serta dapat menekan kehilangan dan mengurangi ongkos produksi. Untuk itu pemerintah baik pusat maupun daerah memberikan berbagai bantuan teknologi pertanian kepada para petani. Salah satunya adalah pemberian mesin panen (combine harvester)
Combine harvester yang berguna untuk memotong bulir tanaman padi yang berdiri, merontokkan dan mengarungkan gabah sambil berjalan dilapangan. Dengan demikian waktu pemanen lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan tenaga manusia (manual) serta tidak membutuhkan jumlah tenaga kerja manusia yang besar seperti pada pemanenan tradisional. Adanya pengadaan mekanisasi pertanian terkhusus pada penanganan panen dapat membantu cepat menyelesaikan kegiatan pasca panen.
Dengan kehadiran dari sistem mekanis dengan menggunakan Combine harvester maka memunculkan permasalahan sosial-budaya memberikan dampak kepada buruh tani yang terancam kehilangan sumber mata pencaharaiannya. Oleh karena itu, karya tulis diberi judul Optimalisasi Penggunaan Combine Harvester Terhadap Penanganan Panen Padi sehingga dengan penerapan yang maksimum pada mesin tersebut dapat mengurangi susut dan kehilangan hasil dari penanganan panen padi juga memberikan ulasan yang membantu permasalahan sosial-budaya masyarakat buruh tani yang menitikberatkan kehidupan ekonomi pada pertanian
1.2.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan karya tulis ini adalah:
1.    Bagaimana hasil yang maksimum combine harvetser dibandingkan dengan proses penanganan padi yang lain ?
2.    Bagaimana dampak yang terjadi atas kemunculan penggunaan mesin combine harvester?
1.3.  Tujuan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah:
1.    Menjelaskan kemampuan mesin combine harvster  dalam menangani kegiatan panen padi
2.    Menyebutkan dan menjelaskan dampak yang terjadi dari kemunculan mesin combiner harvester
1.4.  Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah:
1.    Bagi Penulis
Menambah wawasan dan ulasan mengenai penanganan panen padi
2.    Bagi Pembaca

Mengetahui penanganan panen padi yang praktis dan dapat meningkatkan hasil dan mutu gabah yang baik

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

1.1.  Tanaman Padi
Tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) merupakan tanaman semusim dengan morfologi berbatang bulat dan berongga yang disebut jerami. Daunnya memanjang dengan ruas searah batang daun. Pada batang utama dan anakan membentuk rumpun pada fase generative dan membentuk malai. Padi adalah salah satu tanaman pangan yang sangat penting karena sebagai sumber makanan pokok sebagaian besar masyarakat Indonesia.
 Tanaman padi dapat hidup baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki tahun-1 sekitar 1500–2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah 23 °C dan tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0–1500 m dpl. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18–22 cm dengan pH antara 4–7 (Siswoputranto, 1976).

1.1.  Kriteria Panen Padi
Penentuan saat panen merupakan tahap awal dari kegiatan penanganan pasca panen padi. Ketidaktepatan dalam penentuan saat panen dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi dan mutu gabah/beras yang rendah. Penentuan saat panen dapat dilakukan berdasarkan pengamatan visual dan pengamatan teoritis.
a.)     Pengamatan visual dilakukan dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan lahan sawah. Berdasarkan kenampakan visual, umur panen optimal padi dicapai apabila 90 sampai 95 % butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan menghasilkan gabah berkualitas baik sehingga menghasilkan rendemen giling yang tinggi.
b.)   Pengamatan teoritis dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi dan mengukur kadar air dengan moisture tester. Berdasarkan deskripsi varietas padi, umur panen padi yang tepat adalah 30 sampai 35 hari setelah berbunga merata atau antara 135 sampai 145 hari setelah tanam. Berdasarkan kadar air, umur panen optimum dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22 – 23 % pada musim kemarau, dan antara 24 – 26 % pada musim penghujan (Darmadjati, 1974).

Pemanenan waktu yang tepat akan menentukan kualitas dan kuantitas bulir padi yang dipanen. Panen yang terlalu cepat dari waktu yang telah ditentukan akan menimbulkan besarnya presentase bulir padi warna hijau dan mengakibatkan bulir berisi kosong dan rusak saat digiling. Jika panen terlalu lama mengakibatkan hasil padi akan berkurang dan terlepas dari malai serta tercecer disawah.

1.2.  Sistem Panen Padi
Proses pemanenan merupakan tahapan kegiatan yang dimulai dari pemotongan padi hingga perontokan gabah. Dalam sistem panen tersebut secara garis besar dipengaruhi oleh mekanisme panen itu sendiri dan proses pemanenan. Mekanisme panen sangat terkait dengan budaya serta kebiasaan masyarakat setempat, terdapat tiga sistem pemanenan padi yang berkembang di masyarakat yaitu sistem ceblokan, sistem individu atau keroyokan dan sistem kelompok.
               Pada sistem ceblokan pemanenan dilakukan dengan jumlah pemanen yang terbatas. Pemanen ikut dalam proses pemanenan dan merawat tanaman tanpa mendapatkan upah dari  pemilik sawah. Pada sistem ceblokan, orang lain tidak boleh ikut panen tanpa seijin penceblok. Pada sistem individu atau keroyokan, jumlah pemanen tidak terbatas (150-200 orang per ha) tanpa ikatan kerja antara yang satu dengan lainnya. Jumlah pemanen cukup  banyak sehingga berebut panen dan mengumpulkan potongan padi secepatnya agar dapat  segera pindah ke sawah yang lain. Akibatnya banyak gabah yang rontok dan potongan padi  yang tercecer. Pada panen sistem kelompok jumlah pemanen terbatas (20-30 orang per ha), bekerja secara beregu, pembagian tugas jelas dan perontokan menggunakan pedal threser atau power  therser (Setyono dkk, 1993).
Sistem panen tersebut sangat terkait dengan faktor sosial dan budaya masyarakat setempat yang pada akhirnya mempengaruhi pada tahapan selanjutnya berupa kegiatan perontokan serta faktor kehilangan hasil. Pemanenan padi sistem individual atau keroyokan dengan jumlah pemanen yang tidak terbatas menyebabkan banyak gabah tercecer dan yang tidak terontok. Pemanenan padi dengan sistem kelompok atau beregu mudah terkontrol, sehingga dapat menekan tingkat kehilangan hasil panen (Ananto dkk, 2003).

1.3.  Proses Pemanenan Padi
Saat ini perkembangan varietas padi yang ditanaman merupakan varietas unggul baru yang memiliki kelemahan yang mudah rontok, jumlah batang atau anakan banyak, menyebabkan kehilangan dan perontokan yang tinggi saat dipanen. Penanganan yang tidak tepat dapat menimbulkan susut atau kehilangan.
Dengan diintroduksikannya varietas unggul padi maka terjadi perubahan penggunaan alat panen dari ani-ani ke sabit biasa atau sabit bergerigi (Nugraha dkk. 1990). Panen padi di Indonesia secara umum dilakukan dengan 2 cara yaitu, secara manual menggunakan sabit. Sabit umumnya digunakan petani untuk memanen dengan potong pendek pada bagian atas tanaman dekat malai, cara pemotongan tersebut berguna untuk dirontokkan dengan gebot atau pedal thresher. Sedangkan potongan panjang atau menggunakan mesin reaper pada bagian bawah dekat tanah tanaman berguna agar lebih mudah saat dirontokkan dengan mesin power thresher dengan metode throw in dan hold on.
         Perontokan bertujuan untuk melepaskan gabah dari malainya, dengan cara memberikan tekanan atau pukulan terhadap malai (Mejio, 2008) dan dilakukan dengan cara manual dan mekanis. Perontokan manual atau disebut gebot dilakukan dengan memukul dan membanting malai padi pada benda yang lebih keras hingga gabah terlepas dari malainya. Namun, perontokan semi-mekanis juga ada dimanfaatkan petani tetapi membutuhkan tenaga manusia sebagai penggeraknya. Untuk perontokan secara mekanis dilakukan dengan mesin power thresher, sehingga petani lebih memilih menggunakan mesin perontok karena dianggap praktis dan efektif.

2.5. Combine Harvester
Dalam dekade terakhir telah berkembang penggunaan mesin pemanen. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja di pedesaan. Mesin panen yang diintroduksikan antara lain stripper, reaper, dan combine harvester. Kapasitas kerja stripper dan reaper masing-masing 17 jam/ha, sedangkan combine harvester 5,05 jam/ha (Purwadaria dkk. 1994).
Combine harvester adalah mesin panen padi yang serba komplit dan canggih dalam pengoperasiannya. Combine harvester  dapat bekerja cepat pada areal sawah yang luas. Waktu yang dibutuhkan untuk memanen padi relatif singkat. Combine harvester dilengkapi dengan alat pemotong, perontok, dan mengarungkan padi dalam suatu proses kinerja saja (Hasibuan, 1999).
Pada tahapan proses kerja dari alat combine harvester, tujuan akhir dari operasi pemanenan dan perontokan adalah untuk memperoleh biji yan bebas dari kotoran dan sisa-sisa tanaman, dengan susut yang minimum, kerusakan eksternal minimum dan kerusakan internal minimum, jika biji-biji dipakai untuk bibit. Menurut Daywin dkk (2008), ada lima operasi dasar yang dikerjakan oleh sebuah combine untuk menghasilkan biji yang bersih, yaitu ;
1.    Memotong (mengangkat dari windrow)
2.    Mengangkat dan memasukkan bahan yang telah dipotong kedalam mekanisme thresher
3.    Merontok atau melepaskan biji dan malai atau jerami
4.     Memisahkan biji dan jerami dari sisa-sisa tanaman lainnya.
5.    Membersihkan biji dari sisa-sisa tanaman dan kotoran-kotoran lainnya.
Pada kondisi operasi yang normal sebagian besar dari biji yang dirontok, dipisahkan dari jerami pada unit perontok yang jatuh melalui lubang-lubang pada concave dan pembersihan bahan-bahan sisanya terjadi pada straw carrier, pada waktu jerami bergerak kearah belakang mesin

                                         BAB III. ANALISIS DAN SINTESIS

            Kegiatan panen padi merupakan serangkaian kegiatan yang dimulai dari proses pemotongan hingga pengarungan kedalam karung. Penentuan umur panen padi sangat perlu diperhatikan karena berhubungan dengan  mutu gabah yang baik dan tidak mudah rusak saat diproses menjadi beras. Waktu optimum untuk melakukan pemanen padi dikondisikan saat padi sudah menguning atau disesuaikan dengan waktu tanam padi berdasarkan varietasnya.
            Masalah utama kegiatan panen padi dititikberatkan pada 3 tahapan yaitu, pemotongan, perontokan, dan pengemasan (pengarungan) dimana pada ketiga tahapan tersebut sering terjadinya kehilangan atau susut tercecer saat kegiatan berlangsung. Kehilangan panen padi saat pemotongan bisa mencapai 9 % dan pada tahapan perontokan mencapai 5% dan pengarungan sekitar 1% kehilangan yang terjadi.
Maka dari itu, diperlukan perbaikan dan modifikasi peralatan pada ketiga tahapan tersebut sehingga dapat meminimumkan kehilangan yang terjadi. Namun, kegiatan tersebut kurang diperhatikan oleh para petani karena minimnya pengetahuan kegiatan panen yang sesuai dan terkesan membiarkan kehilangan hasil panen yang dilakukan.
Hasil survei pada tahun 1992 menunjukkan adanya dua sistem pemanenan padi yang berkembang di petani, yaitu (1) sistem individu atau keroyokan, dan (2) sistem ceblokan. Pada kedua sistem panen ini selalu terjadi penundaan perontokan gabah di sawah selama 1-3 hari tanpa alas. Hal ini menyebabkan kehilangan hasil 1- 3% karena gabah rontok. Kedua sistem panen tersebut dikerjakan oleh tenaga pemanen yang tidak terkendali sehingga mengakibatkan banyak gabah yang rontok rata-rata 6,1%. Oleh karena itu, dikembangkan sistem pemanenan padi secara kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan, pemanenan dengan sistem kelompok menurunkan tingkat kehilangan hasil padi menjadi 5,9%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan cara keroyokan 18,9%. Pemanenan padi sistem kelompok dapat menekan kehilangan hasil dari 18,8% pada cara keroyokan menjadi 3,8%.

3.1. Teknologi Panen Padi
            Setelah ditentukan waktu panen, tahapan awal pemotongan padi yang secara tradisional menggunakan ani-ani kemudian berkembang menggunakan sabit biasa atau sabit bergerigi. Berkembangnya penggunaan sabit ternyata dapat menghilangkan kehilangan hasil mencapai 3-8%. Namun, hal tersebut masih menjadi kategori kehilangan yang cukup besar dan dapat mempengaruhi susut hasil pada proses perontokan. Seiring dengan perkembangan teknologi, penerapan mekanisasi pertanian tidak luput pada proses pemotongan dengan menggunakan mesin reaper.
            Munculnya mesin reaper didasarkan pada prinsip kerja penggunaan sabit, bekerja dengan memotong dan merebahkan tegakan padi di sawah. Mesin ini bergerak maju dengan menerjang dan memotong tegakan serta menjatuhkan hasil potongan kesamping kanan. Dari penggunaan mesin reaper, memberikan dampak yang signifikan dengan menekan hasil susut panen padi kurang dari 1%. Hasil pemotongan secara mesin ini kemudian dirontokkan dengan menggunakan mesin power thresher.

3.2. Teknologi Perontokan Padi
            Dalam kegiatan perontokan padi saat ini terdiri dari tiga cara perontokan, yaitu secara tradisional atau gebot, secara semi-mekani dengan pedal thresher, dan secara mekanis menggunakan mesin power thresher. Hasil pemotongan menggunakan sabit dengan potongan panjang (dekat tanah) dirontokkan dengan cara gebot dengan memukul atau membanting tangkai padi pada benda keras (kayu, drum, dan lain-lain) hingga gabah terlepas dari malainya. Dengan kapasitas kerja 55-60 kg/jam/orang susut tercecer yang terjadi sangat besar berkisar 8-9%.
               Perontokan dengan gebot sudah ditinggalkan para petani, karena membutuhkan tenaga yang besar dan juga hasil susut yang relatif besar membuat para petani meninggalkan cara ini dan lebih menggunakan  mesin power thresher.
            Selain itu, inovasi perontokkan berubah menggunakan pedal thresher dimana penerapan teknologi ini masih menggunakan tenaga manusia sebagai tenaga penggeraknya. Aplikasi alat ini banyak digunakan para petani yang minim modal, dikarenakan alat ini dapat dibuat sendiri menggunakan bahan kayu dan sebagainya sehingga tidak mengeluarkan modal yang cukup banyak. Hasil susut atau kehilangan alat ini hampir sama dengan cara gebot berkisar 5-7% yang terjadi dengan kapasitas kerja sebesar 90-120 kg/jam
            Setelah dicanangkannya program mekanisasi pertanian oleh pertanian sejak masa Revolusi Hijau, maka kegiatan perontokan berubah secara mekanis dengan memanfaatkan tenaga mesin. Mesin power thresher merupakan mesin yang berfungsi sebagai perontok padi. Selain menekankan hasil susut gabah padi berkisar 1-2% juga menghemat waktu dan praktis penggunaannya yang tidak membutuhkan banyak operator dan tenaga manusia. Mesin power thresher banyak digunakan dan dijumpai di areal persawahan saat kegiatan pemanenan berlangsung. 

3.3. Combine Harvester
Combine harvester adalah mesin panen padi yang mampu menyelesaikan pekerjaan menuai, merontok, memisahkan, membersihkan, dan mengayak gabah dalam satu urutan. Strukturnya kompak, mobilitas tinggi, stabil, andal, ekonomis, dan kuat aksesibilitasnya ke lahan sawah, serta mesin ini hemat bahan bakar. Untuk mengoperasikan alat bermesin diesel 25 PK hanya membutuhkan solar 6,5 l/ha. Combine harvester memiliki keterbatasan, yaitu sulit bekerja pada lahan dengan kedalaman lumpur 20 cm atau lebih dan kurang berfungsi efektif pada lahan dengan kemiringan tinggi. Di samping itu, tanaman padi yang akan dipanen tidak boleh basah untuk mencegah kemacetan di dalam sistem perontokan.
Hasil menjelaskan, penggunaan combine harvester bisa sangat menghemat waktu petani. Pemakaian combine harvester ukuran kecil saja hanya memakan waktu 4-5 jam per hektar. Jika dibanding panen dengan tenaga manusia, bisa memakan waktu seharian. Kelebihan lain combine harvester,  mampu menekan angka susut hasil panen sebesar 1 sampai 2 persen.  Jika panen konvensional akan terjadi  susut hasil mencapai 15-20 persen. Selain itu, sudah bersih terpotong hingga pangkal batang sehingga memperkecil kehilangan hasil panen dibanding menggunakan parang atau arit. Dengan combine harvester, batang padi yang dipanen langsung terpotong hingga pangkal batang. Lalu dipisahkan antara batang dengan gabah dan keluar dalam bentuk gabah.

3.4. Permasalahan Sosial-Budaya
Panen padi menggunakan combine harvester membutuhkan 2-8 orang tenaga kerja dalam 1 ha luasan panen. Satu orang operator, 1-3 orang asisten operator dan sisanya membantu angkut karung gabah ke mobil pengangkut. Dengan dibutuhkan buruh tani yang sedikit maka dapat mengancam para buruh tani yang lain terutama para buruh panen perempuan yang kebanyakan turut andil. Selain itu, pemadatan tanah lahan sawah menjadi besar sehingga diperlukan biaya yang lebih besar untuk mengolah lahan akibat pemadatan. Kemunculan combine harvester juga mengakibatkan pemilik mesin power thresher kehilangan penyewa.
Dengan permasalahan tersebut, pemerintah oleh kementrian pertanian sebaiknya memberikan hal yang solutif tanpa mengurangi dan menghentikan penggunaan combine harvester. Para buruh tani diberikan sosialisasi dan pengarahan berkaitan dengan kelompok atau paguyuban buruh tani, dimana keberadaan mereka tidak terancam melainkan sebagai mediator dengan memberikan bantuan atau kredit untuk membeli mesin combine harvester untuk disewakan. Dan pemilik dan penyewa mesin power thresher juga bisa berperan dan bekerja sama dengan buruh tani.
    
                                   BAB IV  SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1  Kesimpulan
1.   Hasil pemanen secara tradisional mengakibatkan susut yang terjadi pada gabah padi sebesar 15-20 persen dan sangat berbeda jauh jika penerapan mesin panen combine harvester susut berkurang menjadi 1-2 persen
2.   Pemanenan secara tradisional seperti menggunakan sabit dan ani-ani bisa menyelesaikan kegiatan panen seharian atau lebih dengan penggunaan mesin panen combine harvester mampu menyelesaikan dalam jangka waktu 4-5 jam per hektar.
3.   Kondisi lahan yang sesuai untuk mesin panen combine harvester dengan kedalaman berkisar 20 cm, tetapi akan lebih efektif jika lahan sawah dalam keadaan kering dan tidak berlumpur
4.   Resiko penggunaan mesin panen combine harvester mengakibatkan hilangnya kesempatan kerja bagi buruh tani, menghilangkan usaha penyewaan mesin power thresher juga terjadinya pemadatan tanah akibat tekanan dari mesin panen combine harvester

4.2  Rekomendasi
1.  Kegiatan panen padi dari pemotongan sampai pengarungan akan lebih praktis menggunakan combine harvester. Jika penggunaan mesin power thresher mampu menekan susut hasil yang sama tetapi penggunaan  combine harvester dapat bekerja sekaligus dari pemotongan, perontokan, dan pengarungan.
2.  Pemerintah  mengarahkan dan membimbing serta memberikan bantuan atau perkreditan kepada buruh tani sebagai fasilitator combine harvester untuk disewakan kepada pemilik lahan atau sawah


DAFTAR PUSTAKA

Ananto E. E., A. Setyono dan Sutrisno, 2003. Panduan Teknis Penanganan Panen dan Pascapanen Padi dalam Sistem Usaha Tani Tanaman Ternak. Puslitbangtan Press. Bogor
Biro Pusat Statistik, 1996. Survei susut pascapanen MT 1994/95 dan MT 1995. Kerjasama BPS, Ditjen Tanaman Pangan, Badan Pengendali Bimas, Bulog-bapenas, IPB, dan Badan Litbang Pertanian.
Damardjati, D.S., 1974. Pengaruh tingkat kematangan padi (Oryza sativa L.) terhadap sifat dan mutu beras. Thesis MS Institut Pertanian Bogor.
Daywin, F. J., R. G. Sitompul dan Imam Hidayat, 2008. Mesin-Mesin Budidaya Pertanian di Lahan Kering. Graha Ilmu. Yogyakarta
Hasibuan, F., 1999. Kajian Teknis dan Ekonomis Pemakaian Head Feed Combine Harvester (CA 385 EG) Di Daerah Sukamadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Mekanisasi Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB Press. Bogor
Handaka dan Joko Pitoyo, 2007. Evaluasi Sifat Mekanis Tanah Untuk Mekanisasi Panen Padi Sawah (studi kasus di Sukamandi). Jurnal Enjiniring Pertanian Vol V, No 2 Hal 81-87. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Bogor
Mejio, D.J. 2008. An overview of rice postharvest technology: Use of small metallic for minimizing losses. Agricultural Industries Officer, Agricultural and Food Engineering Technologies Service, FAO, Rome. FAO Corporate Document Repository. p. 1-16.
Nugraha, S., A. Setyono dan D.S. Damarjati. 1990. Pengaruh keterlambatan perontokan padi terhadap kehilangan hasil dan mutu. Laporan Hasil Penelitian 1988/89. Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi.
Purwadaria, H.K., E.E. Ananto, K. Sulistiadji,Sutrisno, and R. Thahir. 1994. Development of stripping and threshing type harvester. Postharvest Technologies for Rice in the Humid Tropics, Indonesia. Technical Report Submitted to GTZ-IRRI Project. IRRI, Philippines. 38 pp.
Setyono, A., R. Tahir, Soeharmadi dan S. Nugraha. 1993. Perbaikan sistem pemanenan padi  untuk meningkatkan mutu dan mengurangi kehilangan hasil. Media Penelitian Sukamandi No. 13 hal 1-4.
Siswoputranto, A. G., 1985. Teknologi Pascapanen. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. BP Hortikultura. Lembang


PERHATIAN KEPADA PARA PEMBACA BAHWA TULISAN INI HANYA BISA DIJADIKAN REFERENSI DAN RUJUKAN DAN JANGAN DIJADIKAN BAHAN PLAGIAT DALAM TULISAN ANDA. 
BERKARYALAH DENGAN BIJAK!!!!!

Tulisan ini merupakan hasil dari
Karya Tulis Ilmiah Mawapres Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Tahun 2016