24 Desember 2015

Mesin Penyiang Tanaman

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Smith and Wikes (1979) mengemukakan bahwa penyiangan merupakan suatu bentuk pengendalian gulma secara mekanis dengan menggunkan alat untuk mengaduk atau membalik permukaan tanah sampai kedalaman tertentu dengan cara sedemikian rupa, agar gulma yang masih kecil dapat dibinasakan dan pertumbuhan tanaman budidaya dapat ditingkatkan.
Di Indonesia pemberantasan gulma masih banyak dilakukan dengan cara manual yaitu mencabut gulma dengan tangan. Selama masa pertumbuhan padi biasanya dilakukan 2 kali penyiangan yaitu penyiangan pertama pada waktu padi berumur 15 -17 hari dan penyiangan kedua pada waktu padi berumur 50 – 55 hari.
Menurut Sukman (1991), pengendalian gulma dari tanaman padi perlu dilakukan untuk menghindari persaingan antara padi dan gulma dalam mengambil unsur hara, selain itu dengan bersihnya gulma di sekitar tanaman padi maka penyebaran hama penyakit padi sudah dibuat seminimum mungkin atau bahkan terputusnya media penyebar hama penyakit padi. Cara penyiangan mekanis membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan cara penyiangan dengan tangan. Penggunaan alat penyiang mekanis berisiko merugikan pertumbuhan tanaman, karena alat tersebut sering menimbulkan kerusakan mekanis pada akar maupun batang tananam padi, terutama kalau jarak tanam padi tidak teratur.
Penyiangan secara mekanis menggunakan peralatan bantu seperti garok dan landak sudah banyak digunakan di beberapa wilayah, hanya saja masih dijumpai kendala kapasitas yang rendah (40 - 50 HOK/ha) serta kejerihan kerja cukup tinggi. Tantangan di masa depan adalah masalah ketersediaan tenaga kerja yang bekerja di bidang pertanian yang memiliki kecenderungan semakin berkurang. Salah satu alternatifnya adalah menggunakan mesin penyiang bermotor. Alat ini mampu mengurangi waktu kerja dan jumlah tenaga kerja.
Penyiangan padi merupakan salah satu kegiatan dalam budidaya tanaman padi sawah yang berpengaruh mentukan produksi hasil pertanian. Mesin penyiang bermotor merupakan salah satu alternative cara penyiangan disamping cara-cara penyiangan yang lain (dicabut langsung dengan tangan, dengan alat landak dll). Mesin penyiang padi sawah bermotor model JP-02, merupakan prototype yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu digunakan untuk kegiatan penyiangan padi sawah sampai dengan umur 40 hari (Joko, 2006).
Tantangan di masa depan adalah masalah ketersediaan tenaga kerja yang bekerja di bidang pertanian yang memiliki kecenderungan semakin berkurang. Salah satu alternatifnya adalah menggunakan mesin penyiang bermotor. Alat ini mampu mengurangi waktu kerja dan jumlah tenaga kerja. Kepemilikan mesin ini dapat diusahakan dengan berbagai cara, salah satunya dengan pembelian lewat kelompok dan nantinya diusahakan atau digunakan bersama lewat sistem usaha jasa (Desrial, 2009).
Kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian saat ini menjadi masalah yang menghambat produktifitas hasil pertanian. Keadaan ini disebabkan karena kesempatan kerja diluar sektor pertanian cukup luas, lebih menarik serta menawarkan pendapatan yang lebih baik dan profesi sebagai petani masih mengandung pandangan yang kurang baik bagi masyarakat. Dengan kurangnya tenaga kerja di sektor pertanian, secara tidak langsung mengakibatkan mahalnya upah kerja yang harus dibayar oleh petani. Masalah ini sudah ditanggulangi oleh pemerintah dengan penerapan mekanisasi pertanian.Salah satu penggunaan alat mekanisasi pertanian yang tidak kalah pentingnya adalah pada saat penyiangan padi sawah.
1.2.Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat diambil dari mesin penyiang gulma ini adalah sebagai berikut
1.        Apa itu defenisi mesin penyiang ?
2.        Apa saja jenis dari mesin penyiang ?
3.        Bagaimana cara pengoperasian dan perawatan mesin penyiang ?
4.        Bagaimana persyaratan kondisi lahan sawah dan tanaman padi sawah terhadap mesin penyiang ?
5.        Apa saja keunggulan dan kelemahan dari mesin penyiang ?
1.3  Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.        Agar mahasiswa dapat mengetahui defenisi dari mesin penyiang
2.        Agar mahasiswa dapat mengetahui persyaratan kondisi lahan sawah dan tanaman padi sawah terhadap mesin penyiang
3.        Untuk mempelajari cara pengoperasian dan perawatan mesin penyiang
4.        Untuk mengetahui jenis-jenis dari mesin penyiang
5.        Dan untuk bisa mengetahi keunggulan dan kelemahan dari mesin penyiang
 BAB II
PEMBAHASAN

1.        Defenisi Mesin Penyiang
Penyiangan merupakan suatu kegiatan mencabut gulma yang berada di sela-sela tanaman pertanian dan segaligus berfungsi untuk menggemburkan tanah. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian, karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Penyiang bertujuan untuk membersihkan tanaman yang sakit, mengurangi persaingan penyerapan hara, mengurangi hambatan produksi anakan, dan mengurangi persaingan penetrasi sinar matahari. Tanaman yang ditumbuhkan harus mendapatkan semua nutrisi dan air yang diberikan oleh Petani agar mampu menghasilkan secara optimal.
Penyiangan biasanya dilakukan secara mekanis, yakni dengan membongkar gulma dengan menggunakan cangkul atau brujul (alat untuk melubangi tanah, berbentuk seperti garu, ditarik oleh ternak). Penyiangan dengan menggunakan cangkul pada umumnya lebih baik karena dengan cara ini penyiangan dapat dilakukan dengan teliti meskipun hasilnya sedikit dan memakan banyak waktu. Sebaliknya penyiangan dengan menggunakan brujul lebih cepat, tetapi hasilnya kurang baik karena tanaman sering rusak terinjak-injak oleh ternak yang menarik brujul. Kalau gulma yang tumbuh sangat banyak, perlu dilakukan penyiangan ketiga yakni saat Kedelai berumur 60 hari. Penyiangan tidak boleh dilakukan waktu Kedelai sedang berbunga karena akan mengakibatkan bunga rontok (Yulianti, 2004).
Sedangkan mesin penyiang merupakan mesin yang digunakan untuk mencabut gulma sekaligus menggemburkan tanaman di lahan pertanian sekaligus untuk mengurangi upah kerja petani dan efisiensi waktu untuk mencabut gulma dengan cara manual. Mesin ini sangat menguntungkan untuk kegiatan pertanian.
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBPMP Serpong) pada tahun 2004 sebagai lambaga riset dibawah Badan Litbang Departemen Pertanian telah dan terus melakukan riset dan rekayasa untuk mewujudkan mesin penyiang padisawah mekanis bermotor. Cara kerja dan mekanisme penyiangan menggunakan mesin ini sepintas mirip alat landak putar yang didorong oleh operator, hanya saja bedanya piringan putarnya berbentuk segi 6 untuk lahan yang dangkal berukuran diamater 35 cm dan berbentuk segi 8 berdiameter 45 untuk tanah yang dalam. Tenaga putar didapatkan darisebuah motor bakar berukuran 2 HP hasil modifikasi motor dari mesin potong rumput gendong.
Komponen penyiang tipe bajak dua sayap adalah kerangka besi yang dapat dipasang knock down. Dengan system knock down tersebut, waktu yang diperlukan untuk membongkar mesin berkisar 25 menit, sedangkan untuk merakit kembali mesin penyiang tipe bajak dua sayap berkisar 35 menit. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk membongkar dan merakit kembali alat ini adalah dengan menggunakan dua orang operator ( Setyadi, 2004).
Penyiangan yang dilakukan memiliki beberapa fungsi, yaitu:
•   Membersihkan gulma sehingga tidak terjadi persaingan akan kebutuhan metabolisme tanaman.
•   Memasok udara ke dalam tanah sehingga terjadi aerasi yang baik.
•   Memotong akar tanaman. dengan terpotongnya akar tanaman akan memacu partumbuhan cabang cabang akar yang lebih banyak dengan banyaknya akar maka pertumbuhan tanaman akan lebih bagus.

2.      Jenis-Jenis Mesin Penyiang
Berdasarkan jenis lahan power weeder padi dapat dibedakan menjadi dua:
 a.       Power Weeder Roda Satu
Mesin penyiang ini hanya dapat  dioperasikan untuk penyiangan gulma pada lahan yang tergenang air sekitar 5 cm dan berlumpur dengan kedalaman lapisan maksimum 25 cm (diukur dengan cara orang berdiri di lumpur). untuk jarak  tanam 20–25 cm dengan baris yang lurus dengan kedalaman air sekitar 5-10 cm sehingga mesin dapat berjalan tanpa didorong.

             b.       Power Weeder Roda Dua
Mesin jenis ini dapat dioprasikan untuk pencabut rumput liar pada tanah kering dan juga cocok untuk lahan basah dengan menggunakan mesin  bertenaga 8.3 Hp kekuatan mesin diteruskan ke roda tanah melalui v puli pita-mesin. Mesin pencabut rumput liar berputar terdiri dari tiga baris piringan berjajar dengan 6 jumlah pisau yang lentur berlawanan arah sebagai alternatif pada setiap piringan. Pisau ini bila berputar mengaktifkan pemotong dan menggemburkan tanah.
3.      Bagian-Bagian Mesin Penyiang
            Berikut ini adalah komponen dari mesin penyiang beserta fungsi kerjanya masing-masing.
   1.  Stang kemudi : berfungsi untuk mengatur arah jalannya mesin penyiang hubungan kerjanya dengan tuas gas yang mengatur tingginya gas.
  2. Tuas gas : berfungsi untuk mengatur gas hubungan kerjanya dengan stang kemudi untuk mengatur jalan mesin penyiang .
    3. Tangki bahan bakar berfungsi untuk menyimpan bahan bakar agar selalu tersedia kalau dalam pemakaiannya. Hubungan kerjanya dengan komponen yang di transper agar menjadi bahan bakar agar mesin dapat di fungsikan.
   4. Mesin pengerak berfungsi untuk menberi daya kepada komponen-komponen yang ada agar menpermudah pengerjaan dalam penyiangan gulma.
     5. Pelindung weeder berfungsi untuk melingdungi petani agar terhindar dari resiko bahaya.
     6. Rangka berfungsi untuk tempat untuk memasang dari suatu system.
     7. Ekor peluncur berfungsi untuk menahan saat mesin penyiang selesai di gunakan.
     8. Cakar  penyiang  merupakan eksekutor dalam mesin ini, cakar terdiri dari roda yang terbuat dari plat besi, dan cakar sendiri dibuat dari bahan paku baja yang dibengkokkan di ujungnya. Untuk membuat roda diperlukan plat besi yang dibentuk menggunakan pahat.
4.      Cara Pengoperasian dan Perawatan Mesin Penyiang
 A.  Cara Pengoperasian Mesin Traktor
Adapun cara pengoperasian mesin penyiang antara lain sebagai berikut :
1. Menghidupkan engine
     ·      Tuangkan bahan bakar ke dalam tangki
     ·      Gunakan bensin campur dengan perbandingan
     ·      Bensin : oli samping (2T) = 25 : 1
 ·      Putar tuas/ kran bahan bakar pada posisi open seperti terlihat pada gambar berikut.





 ·      Tarik tuas gas sedikit sebelum melakukan start ( menarik tali start)
 ·    Tarik tali starter, jangan lakukan tareikan sampai maksimum/penuh, apabila sekali tarikan belum hidup lakukan tarikan lagi.
·      Apabila engine masih sulit hidup putar tuas choke ke posisi close
·      Setelah engine hidup kembalikan lagi tuas gas ke posisi netral.
1.    Mematikan engine
·      Kembalikan tuas gas pada posisi netral atau idel
·      Tekan tombol “STOP” sampai engine mati
·      Putar tuas/ kran bahan bakar pada posisi “close”






2.    Pengoperasian di lahan
·      Tempatkanlah unit power weeder pada tengah-tengah alur tanaman padi ( cakar kiri dan kanan berada pada ruang kosong diantara alur tanaman padi).
·      Engine distart dan setelah hidup kembalikan posisi tuas gas ke idel (gas posisi rendah ), pada posisi ini putaran dari engine tidakditeruskan ke poros utama dan otomatis cakar penyiang tidak berputar, hal ini dikarenakan pada engine terdapat kopling system sentrifugal, putaran dari engine akan diteruskan bila rpm engine cukup tinggi.
·      Dengan posisi operator dibelakang mesin penyiang sambil memegang kedua stang, mulai atur posisi gas menjadi tinggi sampai cakar penyiang berputar.
·      Apabila kondisi Lumpur cukup dalam dan piringan cakar penyiang terbenam naikkan posisi cakar penyiang, dengan cara menekan stang kebawah ( kaki pengapung sebagai bidang tumpu).
·      Dengan menekan stang kebawah dan kakai pengapung sebagai bidang tumpu adakalanya mengakibatkan cakar berputar ditempat, karena kaki pengapung terbenam kedalam lumpur, bila hal ini terjadi angkatlah stang sampai mesin penyiang dapat berjalan ke depan.
·      Mekanisme pengoperasian mesin penyiang padi sawah , sehingga dapat berjalan ke depan adalah terjadinya slip pada piringan cakar penyiang ( slip berkisar 50 – 60 %), slip inilah yang mengakibatkan Lumpur padi sawah teraduk dan diharapkan gulma yang tumbuh diantara alur tanaman akan tercabut dan tergulung.
·      Pada saat pengoperasian di lapang operator yang sudah terbiasa dan terlatih akan memeliki perkiraan (feeling) kapan saatnya stang harus diangkat dan ditekan sehingga mesin penyaing dapat melaju ke depan dengan kecepatan sesuai dengan kecepatan jalan operator di lahan ( 2 –2,5 km/jam)
·      Setelah sampai pada ujung lahan, gas dikecilkan sehingga engine tetap hidup tetapi cakar penyiang diam, untuk berpindah alur unit mesin penyiang dapat diangkat .
·      Untuk mengangkat mesin penyaing ini cukup dilakukan satu orang ( berat 19 kg), tangan sebelah memegang pipa rangka dan tangan
·      sebelah memegang pegangan gear box.
·      Setelah mesin terpindahkan ke alur berikutnya ulangi lagi proses menjalankan mesin penyiang seperti diatas.










     B.  Cara Perawatan Mesin Penyiangan
          Adapun cara perawatan dari mesin traktor adalah sebagai berikut :
         1.    Perawatan harian
·      Lakukan pengecekan dan pengencangan masing-masing komponen
·      Bersihkan saringan udara karburator, dengan cara mencuci memakai minyak tanah dan setelah itu celuplah saringan tersebut pada oli mesin.
·      Periksalah minyak pelumas pada gear box, apabila kurang tambahkan dengan minyak pelumas SAE 90/140 sebanyak 0,3 liter
2.    Perawatan 50 jam
·      Pembersihan dan penyetelan busi
·      Setelah pembersihan kotoran karbon pada gas elektroda, atur kerenggangan elektroda antara 0,6 sampai 0,7 mm
·      Bersihkan filter bahan bakar , lepaskan filter bahan bakar dan cucilah dengan minyak tanah. Jika sudah terlalu kotor gantilah dengan yang baru dan juga bersihkan tangki bahan bakar.


5.    Persyaratan Kondisi Lahan Sawah dan Tanaman

1. Persyaratan lahan
·      Lahan harus berupa lahan sawah dengan tanaman padi sawah
·      Lahan diusahakan tergenang air pada saat disiang (ketinggian genangan  ± 5 cm).
·      Lahan berlumpur dengan kedalaman maximum 20 cm ( kedalaman kaki operator   terbenam ke dalam lumpur)

2. Persyaratan tanaman
·      Tanaman padi sawah berumur antara 15 hari sampai dengan 40 hari
·      Tanaman ditanam dengan yang teratur, jarak antara baris 20 cm ( mesin penyiang bermotor tipe JP- 02/20 hanya dapat dipakai untuk menyiang tanaman dengan jarak tanam 20 cm) ,
·      Jarak tanaman didalam baris juga dibuat seragam 20 cm, apabila diinginkan dilakukan penyiangan dengan mesin penyiang pada arah memotong baris tanam.
·      Jarak tanaman didalam baris boleh dibuat tidak seragam atau dibuat lebih rapat, namun penyiangan dengan mesin pada pada arah memotong baris tanaman tidak dapat dilakukan.
6.      Keunggulan dan Kelemahan Mesin Penyiang
      A.    Keunggulan Mesin Penyiang Gulma Padi
            Adapun keunggulan dari penyiangan gulma padi secara mekanis antara lain :
           ·      Berat alat termasuk mesin adalah 21 kg, tergolong ringan, mudah dioperasionalkan oleh 1(satu) orang operator.
            ·      Meningkatkan kapasitas kerja penyiangan, dibandingkan dengan penyiangan cara manual 50 – 80 jam per hektar, mesin penyiang (power weeder) mempunyai kapasitas kerja 15 – 27 jam per hektar.
            ·      Mengurangi kejerihan kerja, dan mampu menekan ongkos kerja penyiangan
       B.     Kelemahan Mesin Penyiang Gulma Padi
              Dari beberapa keunggulan yang dimiliki mesin penyian gulma padi ini, mesin ini juga      memiliki kelemahan, antara lain :
   ·      penyiangan secara mekanis menggunakan Power weeder hanya dilakukan dalam satu arah saja.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Adapun kesimpulan dan saran yang dapat diambil dari makalah ini adalah :
1.      Penyiangan merupakan suatu kegiatan mencabut gulma yang berada di sela-sela tanaman pertanian dan segaligus berfungsi untuk menggemburkan tanah
2.      Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian, karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
3.      Sedangkan mesin penyiang merupakan mesin yang digunakan untuk mencabut gulma sekaligus menggemburkan tanaman di lahan pertanian sekaligus untuk mengurangi upah kerja petani dan efisiensi waktu untuk mencabut gulma dengan cara manual
4.      Berdasarkan jenis lahan power weeder padi dapat dibedakan menjadi dua yaitu
Power weeder untuk padi lahan basah atau berlumpur, dan Power weeder padi untuk lahan kering.


DAFTAR PUSTAKA

Sukman, Y., dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta
Pitoyo Joko, 2006. Mesin Penyiang Gulma Padi Sawah Bermotor. Sinar Tani. Banten.Handaka.2001. Inovasi Alat dan Mesin Pertanian.Prosiding Ekspose dan Seminar Inovasi Alat dan Mesin Pertanian untuk Agribisnis.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Smit, H. P. and Wikes, L. H. 1979.Farm Machinery and Equipment.Agricultural Machinery.Farm Equipment. Tata Mc. Graw-Hill
Desrial, W.S. dan P. Bangun.2009. Pengendalian Gulma pada Tanaman Kedelai. Dalam Soatmadja, S. Ismunadji, Yuswandi(Penyunting). 1985. Pusat Penelitian dan PEngembangna Tanaman Pangan. Bdan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
BBPMP Serpong.2004.  Riset dan Rekayasa untuk Mewujudkan Mesin Penyiang Padi Sawah Mekanis Bermotor. Lambaga Riset dibawah Badan Litbang Departemen Pertanian
Setyadi, S. 2004. Uji Kinerja Teknis dan Ekonomis Cultivator Roda Satu “YANMAR PSC 4B” pada Operasi Penyiangn Kedelai.Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
Yulianti.2004. Riset Mengenai Mekanisme Penyiangan Gulma Padi di Lahan Kering dan Basah.Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.